Home » Berita » Berikut Cara Perhitungan Biaya Borongan Konstruksi Baja

Berikut Cara Perhitungan Biaya Borongan Konstruksi Baja

Konstruksi baja adalah salah satu jenis konstruksi yang sering digunakan dalam proyek bangunan. Konstruksi baja biasanya melibatkan penggunaan profil baja untuk membentuk rangka bangunan. Untuk menentukan biaya konstruksi baja, salah satu metode yang sering digunakan adalah dengan menghitung borongan konstruksi baja. Dalam artikel ini, kita akan membahas cara menghitung borongan konstruksi baja.

 

Definisi Borongan Konstruksi Baja

Borongan konstruksi baja adalah metode penghitungan biaya dalam pekerjaan konstruksi baja yang dilakukan oleh kontraktor atau pelaksana proyek. Dalam metode borongan, biaya konstruksi dibagi menjadi beberapa komponen dan dihitung berdasarkan volume pekerjaan yang akan dilakukan. Biaya yang dihitung dalam borongan konstruksi biasanya mencakup biaya bahan bangunan, upah pekerja, peralatan dan transportasi, dan biaya overhead.

 

Komponen Konstruksi Baja

Konstruksi baja terdiri dari beberapa komponen yang utama, yaitu profil baja, sambungan, dan baut. Profil baja digunakan sebagai struktur utama bangunan, sedangkan sambungan dan baut digunakan untuk menghubungkan profil baja agar membentuk struktur yang kokoh dan kuat.

Jenis Borongan Konstruksi Baja

Ada dua jenis borongan konstruksi baja yang umum digunakan, yaitu borongan harga satuan dan borongan lump sum.

  1. Borongan Harga Satuan, Dalam borongan harga satuan, biaya konstruksi dihitung berdasarkan harga satuan per unit volume pekerjaan yang akan dilakukan. Harga satuan dihitung berdasarkan penawaran harga dari supplier bahan bangunan dan tenaga kerja. Borongan harga satuan cocok untuk proyek yang ukurannya kecil dan jangka waktu pelaksanaannya pendek.
  2. Borongan Lump Sum, Dalam borongan lump sum, biaya konstruksi dihitung sebagai satu kesatuan biaya untuk seluruh pekerjaan yang akan dilakukan. Biaya borongan lump sum ditentukan berdasarkan kesepakatan antara kontraktor atau pelaksana proyek dengan pemilik proyek. Borongan lump sum cocok untuk proyek yang besar dan kompleks serta jangka waktu pelaksanaannya panjang.

 

borongan konstruksi baja

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja adalah sebagai berikut:

  1. Luas Bangunan – Luas bangunan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja. Semakin besar luas bangunan, maka semakin besar volume bahan bangunan dan tenaga kerja yang dibutuhkan, sehingga biaya borongan akan semakin tinggi.
  2. Tingkat Kesulitan Konstruksi – Tingkat kesulitan konstruksi juga mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja. Konstruksi yang lebih kompleks dan sulit akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih ahli dan peralatan yang lebih canggih, sehingga biaya borongan akan semakin tinggi.
  3. Lokasi Proyek – Lokasi proyek juga menjadi faktor yang mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja. Biaya transportasi dan logistik akan menjadi lebih mahal jika lokasi proyek terletak di daerah yang sulit dijangkau atau jauh dari pusat kota.
  4. Bahan Bangunan Jenis dan kualitas – bahan bangunan yang digunakan dalam konstruksi juga mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja. Bahan bangunan yang lebih berkualitas dan mahal akan meningkatkan biaya borongan.
  5. Waktu Pelaksanaan – Waktu pelaksanaan proyek juga mempengaruhi biaya borongan konstruksi baja. Semakin lama waktu pelaksanaan, maka semakin besar biaya tenaga kerja, peralatan, dan transportasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, perencanaan dan manajemen waktu yang baik akan membantu mengurangi biaya borongan konstruksi baja.

 

borongan konstruksi baja

Langkah-langkah menghitung borongan konstruksi baja adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan Harga Satuan Borongan
    Langkah pertama dalam menghitung borongan konstruksi baja adalah menentukan harga satuan borongan. Harga satuan borongan dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pihak kontraktor dan pemilik proyek.
  2. Menghitung Volume Bangunan
    Langkah kedua adalah menghitung volume bangunan yang akan dibangun. Volume bangunan dapat dihitung berdasarkan luas bangunan dan tinggi bangunan.
  3. Menghitung Biaya Bahan Bangunan
    Setelah mengetahui volume bangunan, langkah selanjutnya adalah menghitung biaya bahan bangunan yang dibutuhkan. Biaya bahan bangunan dapat dihitung dengan mengalikan volume bangunan dengan harga satuan bahan bangunan.
  4. Menghitung Biaya Upah Pekerja
    Langkah selanjutnya adalah menghitung biaya upah pekerja. Biaya upah pekerja dapat dihitung dengan mengalikan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dengan harga satuan upah pekerja.
  5. Menghitung Biaya Peralatan dan Transportasi
    Langkah berikutnya adalah menghitung biaya peralatan dan transportasi yang dibutuhkan. Biaya peralatan dan transportasi dapat dihitung dengan mengalikan jumlah peralatan dan transportasi yang dibutuhkan dengan harga satuan peralatan dan transportasi.
  6. Menghitung Biaya Overhead
    Setelah menghitung biaya bahan bangunan, biaya upah pekerja, dan biaya peralatan dan transportasi, langkah selanjutnya adalah menghitung biaya overhead. Biaya overhead meliputi biaya administrasi, biaya pajak, dan biaya lain-lain.
  7. Menghitung Total Biaya Borongan Konstruksi Baja
    Langkah terakhir adalah menghitung total biaya borongan konstruksi baja dengan menjumlahkan biaya bahan bangunan, biaya upah pekerja, biaya peralatan dan transportasi, dan biaya overhead. Total biaya borongan konstruksi baja ini akan menjadi harga akhir yang harus dibayar oleh pemilik proyek kepada kontraktor.
Konten Menarik Lainnaya :  Kontraktor Konstruksi Baja Terpercaya

 

 

Contoh Perhitungan Borongan Konstruksi Baja

  1. Studi Kasus 1

Luas bangunan: 100 m²

Tinggi bangunan: 3 m

Harga satuan borongan: Rp. 5.000.000/m²

Langkah 1: Menentukan volume bangunan

Volume bangunan = luas bangunan x tinggi bangunan

Volume bangunan = 100 m² x 3 m = 300 m³

Langkah 2: Menghitung biaya bahan bangunan

Biaya bahan bangunan = volume bangunan x harga satuan borongan

Biaya bahan bangunan = 300 m³ x Rp. 5.000.000/m³ = Rp. 1.500.000.000

Langkah 3: Menghitung biaya upah pekerja

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan: 10 orang

Harga satuan upah pekerja: Rp. 300.000/orang/hari

Lama pengerjaan: 90 hari

Biaya upah pekerja = jumlah tenaga kerja x harga satuan upah pekerja x lama pengerjaan

Biaya upah pekerja = 10 orang x Rp. 300.000/orang/hari x 90 hari = Rp. 270.000.000

Langkah 4: Menghitung biaya peralatan dan transportasi

Jumlah peralatan yang dibutuhkan: 5 unit

Jumlah transportasi yang dibutuhkan: 2 unit

Harga satuan peralatan dan transportasi: Rp. 500.000/unit/hari

Lama pengerjaan: 90 hari

Biaya peralatan dan transportasi = (jumlah peralatan + jumlah transportasi) x harga satuan peralatan dan transportasi x lama pengerjaan

Biaya peralatan dan transportasi = (5 unit + 2 unit) x Rp. 500.000/unit/hari x 90 hari = Rp. 315.000.000

Langkah 5: Menghitung biaya overhead

Biaya overhead: 10% dari total biaya bahan bangunan, biaya upah pekerja, dan biaya peralatan dan transportasi

Biaya overhead = (biaya bahan bangunan + biaya upah pekerja + biaya peralatan dan transportasi) x 10%

Biaya overhead = (Rp. 1.500.000.000 + Rp. 270.000.000 + Rp. 315.000.000) x 10% = Rp. 310.500.000

Langkah 6: Menghitung total biaya borongan konstruksi baja

Total biaya borongan konstruksi baja = biaya bahan bangunan + biaya upah pekerja + biaya peralatan dan transportasi + biaya overhead

Total biaya borongan konstruksi baja = Rp. 1.500.000.000 + Rp. 270.000.000 + Rp. 315.000.000 + Rp. 310.500.000 = Rp. 2.395.500.000

 

 

  1. Studi Kasus 2

Luas bangunan: 200 m²

Tinggi bangunan: 4 m

Harga satuan borongan: Rp. 7.500.000/m²

Langkah 1: Menentukan volume bangunan

Volume bangunan = luas bangunan x tinggi bangunan

Volume bangunan = 200 m² x 4 m = 800 m³

Langkah 2: Menghitung Biaya Pembangunan

Biaya pembangunan = volume bangunan x harga satuan borongan

Biaya pembangunan = 800 m³ x Rp. 7.500.000/m³ = Rp. 6.000.000.000

Jadi, biaya pembangunan untuk studi kasus ini adalah Rp. 6.000.000.000.

Langkah 3: Menentukan Durasi Pekerjaan

Durasi pekerjaan dapat ditentukan berdasarkan kompleksitas, skala, dan jenis bangunan yang akan dibangun, serta jumlah tenaga kerja yang tersedia. Sebagai contoh, jika proyek ini membutuhkan 20 pekerja dan diperkirakan dapat menyelesaikan 50 m² setiap hari, maka durasi pekerjaan dapat dihitung sebagai berikut:

Durasi pekerjaan = luas bangunan / produktivitas tenaga kerja

Durasi pekerjaan = 200 m² / (20 pekerja x 50 m²/hari) = 2 hari

Jadi, dengan asumsi adanya 20 tenaga kerja yang mampu menyelesaikan 50 m² setiap hari, proyek pembangunan bangunan ini dapat selesai dalam 2 hari.

Langkah 4: Menentukan Anggaran Operasional

Anggaran operasional mencakup biaya-biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek, seperti biaya bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya. Sebagai contoh, anggaran operasional untuk proyek ini dapat dihitung sebagai berikut:

Biaya bahan bangunan (misalnya pasir, semen, batu bata, dll.): Rp. 1.000.000.000

Biaya tenaga kerja (misalnya upah pekerja, makan dan minum, dll.): Rp. 500.000.000

Biaya lainnya (misalnya biaya transportasi, biaya sewa peralatan, dll.): Rp. 250.000.000

Total anggaran operasional = biaya bahan + biaya tenaga kerja + biaya lainnya

Total anggaran operasional = Rp. 1.000.000.000 + Rp. 500.000.000 + Rp. 250.000.000 = Rp. 1.750.000.000

Jadi, dengan asumsi biaya bahan bangunan sebesar Rp. 1.000.000.000, biaya tenaga kerja sebesar Rp. 500.000.000, dan biaya lainnya sebesar Rp. 250.000.000, maka total anggaran operasional untuk proyek ini adalah Rp. 1.750.000.000.

Konten Menarik Lainnaya :  Apa Saja Sih Kontruksi Bangunan Rumah? Berikut Ulasannya

 

 

  1. Studi Kasus 3

Sebagai contoh ketiga, misalkan Anda akan membangun gudang dengan ukuran 20m x 30m dan memiliki tinggi 8m. Dalam proyek ini, akan digunakan bahan bangunan berupa baja WF 300 dan baja siku 100 dengan jumlah total sebanyak 20 ton.

Berikut langkah-langkah perhitungannya:

  1. Menentukan Harga Satuan Borongan
  2. Biaya upah pekerja: Rp 150.000/minggu/orang
  3. Biaya sewa alat berat: Rp 3.000.000/minggu

Biaya overhead: 10% x (biaya bahan + biaya upah + biaya alat berat) = 10% x (Rp 160.000.000 + Rp 1.500.000.000 + Rp 12.000.000) = Rp 167.200.000

Jumlah total biaya: Rp 160.000.000 + Rp 1.500.000.000 + Rp 12.000.000 + Rp 167.200.000 = Rp 1.839.200.000

Harga satuan borongan: Rp 1.839.200.000 / (20m x 30m x 8m) = Rp 958.500/m3

Menghitung Biaya Bahan Bangunan

  • Baja WF 300: 40 batang x 12 m x 25 kg/m = 12.000 kg = 12 ton x Rp 12.000/kg = Rp 144.000.000
  • Baja siku 100: 20 batang x 6 m x 6,6 kg/m = 792 kg = 0,792 ton x Rp 12.000/kg = Rp 9.504.000
  • Jumlah total biaya bahan: Rp 144.000.000 + Rp 9.504.000 = Rp 153.504.000

 

Menghitung Biaya Upah Pekerja

Jumlah pekerja: 10 orang

Lama pengerjaan: 12 minggu

Biaya upah pekerja: Rp 150.000/minggu/orang x 10 orang x 12 minggu = Rp 18.000.000

Menghitung Biaya Peralatan dan Transportasi

Biaya sewa alat berat: Rp 3.000.000/minggu x 12 minggu = Rp 36.000.000

 

Menghitung Biaya Overhead

Biaya overhead: 10% x (Rp 153.504.000 + Rp 18.000.000 + Rp 36.000.000) = Rp 20.550.400

Menghitung Total Biaya Borongan Konstruksi Baja

Total biaya borongan: (Rp 958.500/m3 x 4.800 m3) + Rp 153.504.000 + Rp 18.000.000 + Rp 36.000.000 + Rp 20.550.400 = Rp 5.295.304.000

Dengan begitu, perkiraan biaya untuk membangun gudang tersebut adalah Rp 5.295.304.000. Namun, harga tersebut masih dapat berubah.

 

Kesimpulan

Borongan konstruksi baja adalah kontrak kerja di mana kontraktor bertanggung jawab untuk merancang, memproduksi, dan memasang struktur baja untuk sebuah proyek konstruksi. Jenis kontrak ini biasanya digunakan untuk proyek-proyek besar dan kompleks seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas industri. Berikut adalah beberapa kesimpulan tentang borongan konstruksi baja:

  1. Lebih efisien dalam hal waktu dan biaya – Borongan konstruksi baja dapat lebih efisien dalam hal waktu dan biaya karena semua tahap produksi terjadi di pabrik dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk pemasangan di lokasi proyek.
  2. Memiliki sifat yang fleksibel – Konstruksi baja dapat diproduksi dengan berbagai bentuk dan ukuran sehingga memungkinkan pengembangan desain yang lebih fleksibel dan kreatif.
  3. Kuat dan tahan lama – Baja memiliki sifat kuat dan tahan lama sehingga cocok digunakan untuk membangun struktur yang memerlukan kekuatan yang tinggi seperti gedung bertingkat, jembatan, dan bangunan industri.
  4. Perlu dipilih kontraktor yang berpengalaman – Karena borongan konstruksi baja melibatkan berbagai tahapan mulai dari desain hingga pemasangan, maka penting untuk memilih kontraktor yang berpengalaman dan memiliki reputasi yang baik untuk memastikan proyek selesai dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi.
  5. Memerlukan perawatan dan pemeliharaan – Meskipun konstruksi baja memiliki kekuatan dan tahan lama yang tinggi, tetap perlu dilakukan perawatan dan pemeliharaan teratur untuk memastikan struktur tetap aman dan berfungsi dengan baik.

Dalam kesimpulannya, borongan konstruksi baja memiliki berbagai keuntungan dan dapat menjadi pilihan yang tepat untuk proyek-proyek konstruksi besar dan kompleks, namun perlu memilih kontraktor yang berpengalaman dan melakukan perawatan serta pemeliharaan yang tepat agar struktur tetap aman dan berfungsi dengan baik.

 

Butuh Jasa Borongan Konstruksi Baja?

PT.Cruzindo Utama Jaya adalah Solusi tepat anda. Kenapa anda harus memillih kami untuk melayani permintaaan anda dalam jasa borongan konstruksi baja? Karena kami mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas yang sangat baik dan menggunakan peralatan yang sangat berkualitas tinggi dalam pemasangan jasa borongan konstruksi baja serta jasa pelayanan kami sangatlah relatif cepat dikarenakan para pekerja kami yang merupakan tenaga kerja yang sangat profesional di dalam bidangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

error: Content is protected !!